Selamat datang di MildaMania Land, dunia tulisan yang diciptakan oleh seorang remaja putri di masa sekarang, yang masih memimpikan masa depannya dan tidak mungkin kembali ke masa kecilnya...

Selasa, 06 Maret 2012

Dua Sisi Penantian

Sisi Penantian Melia
“Maaf, mbak. Mau pesan apa?”
Entah sudah berapa kali pelayan berseragam hitam putih itu berdiri di samping mejaku dan menanyakan hal yang sama. Aku hanya terdiam beberapa saat dan memberi jawaban yang sama pula setiap ia bertanya.
“Saya hanya ingin duduk disini. Itu saja.”
“Tapi setidaknya anda perlu memesan makanan atau minuman. Ini restoran, mbak. Bukan tempat duduk-duduk.” ujarnya sedikit kesal.
Aku tersenyum lemah, “Saya tahu. Tapi saya tidak lapar. Tolong izinkan saya duduk disini saja. Saya mohon..” kataku akhirnya.
Pelayan itu berlalu dengan sedikit menggerutu. Aku tahu ia kesal. Tapi ia tidak mengerti apa yang aku inginkan. Sungguh, aku hanya ingin duduk di tempat ini, di meja ini, di sudut yang ini. Aku tidak ingin membeli makanan atau minuman. Aku hanya ingin merajut sebuah kenangan.
Tempat ini sebenarnya adalah saksi bisu sebuah episode hidupku. Episode terindah yang kulalui bersama jelmaan malaikat Tuhan. Ya, kurasa sebutan itu tepat. Dia, pangeranku, kurasa adalah malaikat yang Tuhan kirim untukku. Aku begitu mencintainya. Tapi Tuhan lebih mencintainya. Dan Dia lebih menghendaki pangeranku kembali ke sisi-Nya.
                Ia sudah lama pergi. Tapi aku masih menanti. Mungkin beberapa orang –termasuk pelayan tadi- mengira bahwa aku orang kurang waras yang hanya duduk di tempat yang sama setiap sabtu malam pukul tujuh untuk menunggu seseorang yang telah tenang di alam sana. Tapi aku tak peduli. Tak peduli dengan tatapan bertanya-tanya dari pengunjung lain. Sekali lagi, aku hanya ingin menunggu. Itu saja.
                Aku menghela napas berat. Memandang kursi kosong di depanku dan merasakan kekosongan yang sama di hatiku. Dua kekosongan yang hanya bisa diisi oleh orang yang sama. Tatapanku beralih, kini mengitari meja-meja lain di tempat ini. Setiap sabtu malam, restoran ini memang selalu ramai. Orang-orang datang untuk menikmati hidangan dan menghabiskan waktu malam bersama pasangan, keluarga atau sahabat. Pandangan mataku hampir tidak mendapati meja yang hanya ditempati seorang diri. Tak ada kecuali meja yang sedang aku tempati, dan… tunggu, ada satu meja lagi yang penghuninya sendirian. Seorang perempuan muda. Kuperkirakan usianya lebih muda dariku. Ia terlihat gelisah dan berkali-kali melirik layar ponselnya. Ia benar-benar gelisah. Apa dia sedang menunggu sepertiku?



Sisi Penantian Alicia
Hampir satu jam aku menunggu di tempat ini. Sesuai kesepakatan dengan Ari. Pukul tujuh malam tepat kami akan bertemu dan menghabiskan sabtu malam berdua. Tapi hingga sekarang dia belum datang. Berkali-kali aku mengirim pesan singkat padanya. Tapi ia tidak juga membalas. Ini membuatku kesal.
                Ari memang kerap kali melalaikan janjinya. Bukan hanya sekali ini ia terlambat. Beberapa hari lalu, ia terlambat menjemputku dari toko buku. Lalu ia juga terlambat saat kami berjanji untuk bertemu di jam makan siang. Dan kemarin malam, dia terlambat meneleponku. Padahal dia sudah berjanji. Bukan hanya itu, malam minggu lalu ia juga hampir membuatku kehilangan kesabaran karena terlambat datang ke bioskop dan hampir melewatkan film yang ingin kami saksikan. Dan sekarang ia belum juga datang.
                Ia selalu punya alasan untuk menjelaskan keterlambatannya. Dan entah kenapa, aku sepertinya sudah mampu memaklumi semuanya. Aku terlampau mencintainya. Aku memang kesal saat ia terlambat datang atau melupakan janjinya. Tapi aku tidak dapat membencinya. Sudah kubilang, aku sangat mencintainya.
                Minuman yang kupesan sudah hampir habis, dan Ari belum datang. Ia juga belum membalas pesan singkat terakhir dariku yang kira-kira terkirim sepuluh menit lalu. Kini aku mulai tak sabar. Kuputuskan untuk meneleponnya. Jika dia tak menjawab teleponku, aku pergi.

Sisi Penantian Melia
                Perempuan itu benar-benar sedang menunggu seseorang. Ia kelihatan tak sabar dan sangat kesal. Mungkinkah ia menunggu pangerannya? Seperti aku yang menunggu pangeranku yang tak akan pernah datang?
                “Halo, kamu dimana sih?”
                Kudengar ia berbicara di telepon. Aku cukup jelas mendengarnya karena jarak meja kami tidak begitu jauh. Aku menajamkan pendengaran, mencoba mendengar setiap kata yang perempuan itu bicarakan dengan orang lain di seberang sana. Bukan bermaksud menguping, hanya penasaran.
                “Aku datang sejam yang lalu. Dan kamu ketiduran?”
                Nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus datang!”
                “Tidak! Setengah jam kelamaan. Lima belas menit. Lebih dari itu aku pulang. Dan jangan harap kamu bisa ketemu aku lagi.”
                Ia mulai mengancam lawan bicaranya di telepon. Aku menyimpulkan.
                “Inget, Ri! Aku udah nunggu sejam! Pokoknya kamu harus datang!”
                Dan itu kalimat terakhirnya di telepon. Ia menutup telepon dengan gusar dan semakin tak sabar. Pangerannya terlambat, dan dia masih setia menunggu. Tapi apa aku tidak dapat dikatakan setia? Aku masih tetap menunggu pangeranku, bahkan ketika ia tak akan pernah datang. Aku tak bersikap kehilangan kesabaran seperti perempuan itu. Apa kesetiaanku masih diragukan?

Sisi Penantian Alicia
                Lima belas menit. Ari membuatku harus menunggu lagi. Dan apa alasannya kali ini? Ketiduran? Ketika kemarin malam kami telah berjanji di tempat ini dan dia sempat ketiduran? Apa dia tak sengaja tertidur saat bermain video games kesukaannya? Atau dia tertidur karena kelelahan? Aah, mungkin dia terlalu memforsir dirinya untuk bekerja. Pantas saja dia lelah dan ketiduran. Baik, aku memaklumi alasannya.
Dengan helaan napas berat, aku kembali menyeruput minumanku yang sedikit lagi akan habis. Pandanganku berkeliling, dan terhenti di sebuah meja tepat di seberangku. Seorang perempuan duduk disana sendirian. Menatapku, dan dia tersenyum. Aku membalas senyumnya sekilas dan bertanya-tanya apakah dia sedang menunggu seseorang sepertiku atau dia sengaja datang sendiri. Hmm, kurasa dia tidak menunggu siapapun. Dia kelihatan tenang dan tidak menampakkan ketidaksabaran sepertiku yang sedang menunggu Ari. Ya, mungkin dia memang sedang menikmati kesendiriannya. Apa peduliku? Yang aku pedulikan saat ini adalah kedatangan Ari. Aku tidak sabar menunggunya. Aah, kenapa lima belas menit itu rasanya amat panjang?

Sisi Penantian Melia
                Perempuan itu menatapku sekilas dan dia terlihat lebih tenang sekarang. Mungkin karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pangerannya yang sudah ia nantikan.
                Benar saja. Tak begitu lama, seorang laki-laki menghampiri meja perempuan itu dengan terburu-buru. Rambutnya acak-acakan. Bajunya seperti baru ditarik  dari lemari tanpa sempat diseterika. Ia tak langsung duduk. Tapi perempuan itu yang berdiri menyambutnya. Sekilas kulihat wajahnya melunak seiring kalimat demi kalimat yang diucapkan pangerannya. Kekesalan bahkan hilang dari wajahnya saat laki-laki yang sudah ia nantikan itu meraih dan mengecup lembut punggung tangannya. Sekarang perempuan itu tersenyum tipis dan duduk di kursinya kembali, dengan pangerannya.
                Aku mendadak ingin menangis. Laki-laki itu seperti pangeranku. Ia selalu mengecup punggung tanganku setiap kami bertemu. Bedanya, pangeranku tidak pernah terlambat seperti pangerannya. Bahkan tidak jarang dia yang menungguku. Ah, Satria. Kenapa malam ini aku semakin merindukanmu? Aku masih menantimu, dear…
***

March, 6th 2012 : 03.19 AM