Sisi Penantian Melia
“Maaf, mbak. Mau pesan apa?”
Entah sudah
berapa kali pelayan berseragam hitam putih itu berdiri di samping mejaku dan
menanyakan hal yang sama. Aku hanya terdiam beberapa saat dan memberi jawaban
yang sama pula setiap ia bertanya.
“Saya hanya
ingin duduk disini. Itu saja.”
“Tapi setidaknya
anda perlu memesan makanan atau minuman. Ini restoran, mbak. Bukan tempat
duduk-duduk.” ujarnya sedikit kesal.
Aku tersenyum
lemah, “Saya tahu. Tapi saya tidak lapar. Tolong izinkan saya duduk disini
saja. Saya mohon..” kataku akhirnya.
Pelayan itu
berlalu dengan sedikit menggerutu. Aku tahu ia kesal. Tapi ia tidak mengerti
apa yang aku inginkan. Sungguh, aku hanya ingin duduk di tempat ini, di meja
ini, di sudut yang ini. Aku tidak ingin membeli makanan atau minuman. Aku hanya
ingin merajut sebuah kenangan.
Tempat ini
sebenarnya adalah saksi bisu sebuah episode hidupku. Episode terindah yang
kulalui bersama jelmaan malaikat Tuhan. Ya, kurasa sebutan itu tepat. Dia,
pangeranku, kurasa adalah malaikat yang Tuhan kirim untukku. Aku begitu
mencintainya. Tapi Tuhan lebih mencintainya. Dan Dia lebih menghendaki
pangeranku kembali ke sisi-Nya.
Ia
sudah lama pergi. Tapi aku masih menanti. Mungkin beberapa orang –termasuk
pelayan tadi- mengira bahwa aku orang kurang waras yang hanya duduk di tempat
yang sama setiap sabtu malam pukul tujuh untuk menunggu seseorang yang telah
tenang di alam sana. Tapi aku tak peduli. Tak peduli dengan tatapan
bertanya-tanya dari pengunjung lain. Sekali lagi, aku hanya ingin menunggu. Itu
saja.
Aku
menghela napas berat. Memandang kursi kosong di depanku dan merasakan
kekosongan yang sama di hatiku. Dua kekosongan yang hanya bisa diisi oleh orang
yang sama. Tatapanku beralih, kini mengitari meja-meja lain di tempat ini.
Setiap sabtu malam, restoran ini memang selalu ramai. Orang-orang datang untuk
menikmati hidangan dan menghabiskan waktu malam bersama pasangan, keluarga atau
sahabat. Pandangan mataku hampir tidak mendapati meja yang hanya ditempati
seorang diri. Tak ada kecuali meja yang sedang aku tempati, dan… tunggu, ada
satu meja lagi yang penghuninya sendirian. Seorang perempuan muda. Kuperkirakan
usianya lebih muda dariku. Ia terlihat gelisah dan berkali-kali melirik layar
ponselnya. Ia benar-benar gelisah. Apa dia sedang menunggu sepertiku?
Sisi Penantian Alicia
Hampir satu jam
aku menunggu di tempat ini. Sesuai kesepakatan dengan Ari. Pukul tujuh malam
tepat kami akan bertemu dan menghabiskan sabtu malam berdua. Tapi hingga
sekarang dia belum datang. Berkali-kali aku mengirim pesan singkat padanya.
Tapi ia tidak juga membalas. Ini membuatku kesal.
Ari
memang kerap kali melalaikan janjinya. Bukan hanya sekali ini ia terlambat.
Beberapa hari lalu, ia terlambat menjemputku dari toko buku. Lalu ia juga terlambat
saat kami berjanji untuk bertemu di jam makan siang. Dan kemarin malam, dia
terlambat meneleponku. Padahal dia sudah berjanji. Bukan hanya itu, malam
minggu lalu ia juga hampir membuatku kehilangan kesabaran karena terlambat
datang ke bioskop dan hampir melewatkan film yang ingin kami saksikan. Dan
sekarang ia belum juga datang.
Ia
selalu punya alasan untuk menjelaskan keterlambatannya. Dan entah kenapa, aku
sepertinya sudah mampu memaklumi semuanya. Aku terlampau mencintainya. Aku
memang kesal saat ia terlambat datang atau melupakan janjinya. Tapi aku tidak
dapat membencinya. Sudah kubilang, aku sangat mencintainya.
Minuman
yang kupesan sudah hampir habis, dan Ari belum datang. Ia juga belum membalas
pesan singkat terakhir dariku yang kira-kira terkirim sepuluh menit lalu. Kini
aku mulai tak sabar. Kuputuskan untuk meneleponnya. Jika dia tak menjawab
teleponku, aku pergi.
Sisi Penantian Melia
Perempuan
itu benar-benar sedang menunggu seseorang. Ia kelihatan tak sabar dan sangat
kesal. Mungkinkah ia menunggu pangerannya? Seperti aku yang menunggu pangeranku
yang tak akan pernah datang?
“Halo,
kamu dimana sih?”
Kudengar
ia berbicara di telepon. Aku cukup jelas mendengarnya karena jarak meja kami
tidak begitu jauh. Aku menajamkan pendengaran, mencoba mendengar setiap kata
yang perempuan itu bicarakan dengan orang lain di seberang sana. Bukan
bermaksud menguping, hanya penasaran.
“Aku
datang sejam yang lalu. Dan kamu ketiduran?”
“Nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus
datang!”
“Tidak!
Setengah jam kelamaan. Lima belas
menit. Lebih dari itu aku pulang. Dan jangan harap kamu bisa ketemu aku lagi.”
Ia
mulai mengancam lawan bicaranya di telepon. Aku menyimpulkan.
“Inget,
Ri! Aku udah nunggu sejam! Pokoknya kamu harus datang!”
Dan
itu kalimat terakhirnya di telepon. Ia menutup telepon dengan gusar dan semakin
tak sabar. Pangerannya terlambat, dan dia masih setia menunggu. Tapi apa aku
tidak dapat dikatakan setia? Aku masih tetap menunggu pangeranku, bahkan ketika
ia tak akan pernah datang. Aku tak bersikap kehilangan kesabaran seperti
perempuan itu. Apa kesetiaanku masih diragukan?
Sisi Penantian Alicia
Lima
belas menit. Ari membuatku harus menunggu lagi. Dan apa alasannya kali ini?
Ketiduran? Ketika kemarin malam kami telah berjanji di tempat ini dan dia
sempat ketiduran? Apa dia tak sengaja tertidur saat bermain video games
kesukaannya? Atau dia tertidur karena kelelahan? Aah, mungkin dia terlalu
memforsir dirinya untuk bekerja. Pantas saja dia lelah dan ketiduran. Baik, aku
memaklumi alasannya.
Dengan helaan
napas berat, aku kembali menyeruput minumanku yang sedikit lagi akan habis.
Pandanganku berkeliling, dan terhenti di sebuah meja tepat di seberangku.
Seorang perempuan duduk disana sendirian. Menatapku, dan dia tersenyum. Aku
membalas senyumnya sekilas dan bertanya-tanya apakah dia sedang menunggu
seseorang sepertiku atau dia sengaja datang sendiri. Hmm, kurasa dia tidak
menunggu siapapun. Dia kelihatan tenang dan tidak menampakkan ketidaksabaran
sepertiku yang sedang menunggu Ari. Ya, mungkin dia memang sedang menikmati
kesendiriannya. Apa peduliku? Yang aku pedulikan saat ini adalah kedatangan
Ari. Aku tidak sabar menunggunya. Aah, kenapa lima belas menit itu rasanya amat
panjang?
Sisi Penantian Melia
Perempuan
itu menatapku sekilas dan dia terlihat lebih tenang sekarang. Mungkin karena
sebentar lagi ia akan bertemu dengan pangerannya yang sudah ia nantikan.
Benar
saja. Tak begitu lama, seorang laki-laki menghampiri meja perempuan itu dengan
terburu-buru. Rambutnya acak-acakan. Bajunya seperti baru ditarik dari lemari tanpa sempat diseterika. Ia tak
langsung duduk. Tapi perempuan itu yang berdiri menyambutnya. Sekilas kulihat
wajahnya melunak seiring kalimat demi kalimat yang diucapkan pangerannya. Kekesalan
bahkan hilang dari wajahnya saat laki-laki yang sudah ia nantikan itu meraih
dan mengecup lembut punggung tangannya. Sekarang perempuan itu tersenyum tipis
dan duduk di kursinya kembali, dengan pangerannya.
Aku
mendadak ingin menangis. Laki-laki itu seperti pangeranku. Ia selalu mengecup
punggung tanganku setiap kami bertemu. Bedanya, pangeranku tidak pernah
terlambat seperti pangerannya. Bahkan tidak jarang dia yang menungguku. Ah,
Satria. Kenapa malam ini aku semakin merindukanmu? Aku masih menantimu, dear…
***
March, 6th 2012 : 03.19 AM
